LensaDaily - Produk-produk UMKM unggul asal Kota Banda Aceh diperkenalkan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026. Pameran UMKM diikuti seluruh peserta APEKSI 2026 digelar Hotel Santika Premiere Dyandra Medan, berlangsung 1 hingga 3 Juli 2026."Kita juga ikut mempromosikan produk-produk unggulan Kota Banda Aceh," ungkap Illiza Sa'aduddin Djamal kepada wartawan, di Hotel Santika Medan, Rabu sore 1 Juli 2026.Illiza mengungkapkan produk-produk UMKM unggul yang diboyong ke APEKSI ini, ada parfum, kerajinan tangan hingga busana, yang seluruhnya merupakan produk dari pelaku UMKM asal Kota Banda Aceh."Di mana, kita juga memperjuangkan agar Kota Banda Aceh itu bisa jadi kota parfum di Indonesia. Kita juga sudah MoU dengan Kota Grasse, Prancis (Ibu Kota Parfum di Dunia). Mereka sudah 300 tahun berjuang. Akhirnya mereka cukup bagus," jelas Illiza.Illiza juga melihat antusias para pengunjung yang juga membeli produk parfum di stand Kota Banda Aceh di pameran UMKM APEKSI 2026 ini. Sehingga produk yang ditampilkan siap bersaing dengan produk UMKM dari kota yang lain."Selain parfum, kami juga menampilkan baju yang disulam dengan motif Aceh, yang juga dibuat oleh karya anak muda Kota Banda Aceh. Ada juga hasil kerajinan bordir, parfum, makanan, hingga perhiasan. Semua kami pamerkan di sini, baik dari UMKM, IKM, dan juga ekonomi kreatif," sebut Wali Kota Banda Aceh itu.Disisi lain, Illiza menjelaskan dalam APEKSI ini, banyak persoalan perkotaan yang dibahas dan hasil pembahasan dalam forum ini, akan disampaikan ke Pemerintah Pusat melalui APEKSI ini."Rapat kerja APEKSI ini, menghembuskan apa persoalan-persoalan yang dihadapi kota-kota, termasuk juga Kota Banda Aceh," tutur Illiza.Illiza mengungkapkan bahwa dalam pembahasan persoalan dihadapi Pemerintah Kota di Indonesia seperti Tranfer ke Daerah (TKD) hingga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tersebut. "Persoalan kota hari ini, untuk kota-kota yang pendapatan kotanya yang masih kecil. Jadi, isu-isu ini yang kita angkat sehingga ada kekompakan dan kebersamaan untuk ketika berjuang agar anggaran kita itu sebesar 30 persen sebagaimana yang diamanahkan," jelas Illiza.Wali Kota Banda Aceh berharap APEKSI terus memberikan kontribusi bagi kota-kota nantinya, dengan tujuan dihasilkan solusi dari persoalan-persoalan kota, yang dihadapi. "Tadi, banyak juga yang mengatakan. Misalnya, kewenangan-kewenangan yang tadi merupakan kewenangan daerah, tapi hari ini semua berpusat di pemerintahan pusat. Jadi, itu juga menjadi persoalan yang disampaikan oleh teman-teman wali kota," ucap Illiza.***
01 Juli 2026Tag: apeksi
LensaDaily - Pentingnya penguatan fiskal dan kolaborasi antar daerah menjadi fokus Rapat Kerja (Raker) Komisariat Wilayah (Komwil) I Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Tahun 2026 di Pendopo Wali Kota Banda Aceh, Minggu 19 April 2026. Rakerwil ini diharapkan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang strategis untuk saling belajar dan berbagi solusi menghadapi tantangan perkotaan yang semakin kompleks.Hal tersebut dikatakan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas yang juga menjabat sebagai Ketua Komisariat Wilayah (Komwil) I APEKSI dalam sambutannya. Raker Komwil I APEKSI ini diikuti 24 pemerintah kota.“Kita harus menetapkan diri menjadi kota-kota yang tangguh untuk mendukung Indonesia yang kuat. Strategi fiskal yang tepat sangat krusial, karena dampaknya baru terasa dua hingga tiga tahun ke depan,” kata Rico Waas.Rico Waas menyoroti pentingnya membangun “kota tangguh”, terutama setelah sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda bencana alam. Menurutnya, kesiapan fiskal dan sistem tata kelola yang adaptif menjadi kunci agar pemerintah kota tidak gagap menghadapi krisis.Disampaikan Rico Waas dihadapan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, Direktur Eksekutif APEKSI, Alwis Rustam dan Kepala Daerah lainnya, kekuatan fiskal daerah harus dikelola secara kreatif dan berkelanjutan agar mampu menopang pembangunan jangka panjang sekaligus respons cepat terhadap kondisi darurat.Dalam kesempatan itu, Rico Waas juga mengingatkan para wali kota untuk membuka diri dan tidak ragu belajar dari daerah lain. Ia mencontohkan bagaimana Kota Medan mengadopsi praktik baik dari kota lain, termasuk dalam penataan trotoar dan pengelolaan ruang hijau. Menurutnya, semangat berbagi (sharing) menjadi esensi utama Apeksi.“Kita tidak perlu malu bertanya. Justru dari situ kita bisa menemukan solusi yang mungkin belum ada di kota kita sendiri,” Jelas Rico Waas.Selain isu fiskal, Rico Waas turut menekankan pentingnya pemerataan pendidikan dan layanan kesehatan. Ia menyebut pendidikan harus inklusif dan berbasis teknologi, termasuk melalui pengembangan smart class di sekolah negeri.Di sektor kesehatan, Rico Waas menyampaikan keberhasilan program Universal Health Coverage (UHC) di Medan, di mana masyarakat cukup menggunakan KTP untuk mengakses layanan kesehatan.“Pendidikan dan kesehatan adalah fondasi utama. Kita tidak ingin ada ketimpangan layanan antar kota,” ucap Rico Waas.Rakerwil I Apeksi 2026 mengusung tema “Kota Tangguh, Fiskal Kuat, Kolaborasi Erat” dan menjadi bagian dari rangkaian menuju Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Apeksi yang direncanakan berlangsung di Kota Medan dengan tema besar “Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat”. Rangkaian kegiatan Rakerwil turut diisi dengan aksi sosial dan lingkungan, seperti penanaman pohon, bantuan bagi korban banjir, serta pameran produk ekspor daerah. Dengan semangat kolaborasi yang ditekankan dalam forum ini, Rico Waas optimistis kota-kota di Indonesia dapat tumbuh lebih adaptif, inklusif, dan berdaya saing di tengah dinamika pembangunan nasional.Rakerwil Komwil I Apeksi berlangsung pada 19-22 April 2026. Kegiatan ini juga dirangkai dengan perayaan hari jadi ke-821 Kota Banda Aceh dan dihadiri puluhan wali kota dari berbagai daerah yang tergabung dalam organisasi tersebut.
20 April 2026


