icon

LensaDaily.com

Kategori Berita

Cabang Berita

Pilih Tema:

Tag: kemarau


Tekan Karhutla di Riau, Operasi Modifikasi Cuaca Diintensifkan

LensaDaily - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) diintensifkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Provinsi Riau guna menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah strategis ini merespons kecenderungan cuaca kering yang berpotensi meningkatkan titik panas di wilayah tersebut.Bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, BNPB, TNI AU, dan Pemerintah Provinsi Riau, operasi ini berlangsung selama sembilan hari, terhitung sejak 14 hingga 22 April 2026. Seluruh aktivitas teknis berpusat di Pos Komando (Posko) OMC Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan pentingnya langkah proaktif dalam mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui intervensi berbasis sains. Fokus saat ini adalah mengoptimalkan fase peralihan musim untuk membasahi lahan dan memastikan ketersediaan cadangan air sebagai benteng pertahanan sebelum puncak musim kemarau tiba“Pelaksanaan OMC ini adalah momentum strategis. Berdasarkan data klimatologi, menyemai awan di masa transisi jauh lebih efektif. Kami berupaya menjaga kelembapan lahan di wilayah-wilayah rawan agar potensi titik panas dapat ditekan secara signifikan,” kata Faisal.Senada, Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC pada masa peralihan musim merupakan langkah krusial. Musababnya, OMC di masa perlaihan musim dapat memaksimalkan ketersediaan awan.“Jika OMC baru dilakukan saat musim kemarau, keberadaan awan akan sulit ditemukan sehingga efektivitasnya menurun. Memanfaatkan masa peralihan untuk pembasahan lahan gambut adalah pendekatan yang sangat strategis untuk mengendalikan karhutla secara permanen,” kata Budi.Hingga 18 April 2026, tim di lapangan telah menyelesaikan 7 sorti penerbangan dengan total durasi mencapai 13 jam 19 menit. Petugas telah menyemai sebanyak 5.600 kilogram bahan semai yang difokuskan pada kawasan dengan tingkat kerentanan tinggi, terutama lahan gambut yang rawan terbakar.Direktur pengendalian kebakaran hutan Ditjen Gakkumhut – Kementrian Kehutanan Thomas Nifinluri, menyampaikan bahwa pemerintah Provinsi Riau telah menerbitkan Keputusan Gubernur Riau Nomor KTPS 102/11/2026 Tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau Tahun 2026 mulai 2 Februari hingga 30 November 2026.“OMC di Provinsi Riau telah dilaksanakan dengan dukungan BNPB sebanyak 3 tahap sejak ditetapkannya status siaga darurat. Sebagai keberlanjutan OMC dalam masa siaga darurat bencana karhutla, maka Kementerian Kehutanan sebagai salah satu entitas pengendalian bencana, turut berkontribusi nyata dalam OMC selama sembilan hari kedepan untuk meningkatkan kelembaban lahan melalui pembasahan serta pengisian embung dan cadangan air lainnya,” ujar Thomas.Dukungan teknis juga datang dari TNI AU melalui Lanud Roesmin Nurjadin. Kepala Dinas Operasi, Andrie Setiawan, menegaskan bahwa sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan dalam mitigasi bencana nasional ini.Kepala Dinas Operasi Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Andrie Setiawan menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan OMC Karhutla Riau. Dukungan ini mencerminkan komitmen kuat TNI Angkatan Udara dalam memperkuat sinergi lintas sektor untuk penanganan bencana.“Kami mendukung penuh pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca dalam rangka pengendalian karhutla di Riau. Sinergi antar instansi menjadi kunci keberhasilan dalam menekan risiko kebakaran hutan dan lahan,” ujar AndrieBMKG terus menghimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Melalui pelaksanaan OMC ini, BMKG menegaskan komitmennya untuk terus mendukung upaya nasional penanggulangan bencana secara proaktif, berbasis sains, dan kolaboratif demi menjaga keberlanjutan lingkungan di Provinsi Riau

20 April 2026

BMKG Prediksi Musim Hujan Lebih Cepat, BNPB Ingatkan Waspada Bencana

LensaDaily - Masyarakat diimbau untuk mewaspadai peralihan musim kemarau menuju penghujan sebagian besar wilayah Indonesia. Hal ini ditandai dengan munculnya fenomena cuaca ekstrem dengan tanda-tanda seperti hujan lebat yang dapat disertai petir hingga angin kencang.Berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mayoritas wilayah Indonesia diprediksikan menghadapi musim hujan lebih cepat dari biasanya. Sejak akhir Agustus hingga September, sebagian besar wilayah Indonesia telah merasakan adanya peralihan musim kemarau menuju penghujan yang ditandai dengan munculnya fenomena cuaca ekstrem dengan tanda-tanda seperti hujan lebat yang dapat disertai petir hingga angin kencang.Secara umum, sifat hujan pada musim hujan 2025/2026 diprediksikan berada pada kategori normal, meskipun demikian terdapat beberapa wilayah yang berpotensi mengalami musim hujan dengan sifat atas normal, di antaranya sebagian besar Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, beberapa wilayah Sulawesi, serta Maluku dan Papua.BMKG memprakirakan hujan lebat berpotensi terjadi di wilayah Banten, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, pada periode 12–14 September 2025. Sementara itu, prediksi hujan lebat di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur terjadi pada 15–18 September 2025.Sedangkan Badan Bencana Penanggulangan Nasional (BNPB) menyebutkan, banjir besar baru saja melanda wilayah Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pekan lalu. Petaka itu telah menyebabkan 23 korban jiwa meninggal dunia, 8 orang hilang, 3 orang luka-luka, serta lebih dari 11 ribu jiwa terdampak. Sementara itu, lebih dari 300 rumah mengalami kerusakan mulai dari rusak ringan hingga hanyut."Bencana yang berdampak signifikan itu dipicu oleh cuaca ekstrem akibat pengaruh dari adanya aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuator, gelombang Kelvin, dan Madden Julian Oscillation (MJO) yang melintas di barat wilayah Indonesia," tutur Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D dalam keterangan tertulisnya, mengutip bnpb.go.id, Senin 15 September 2025.Meski penanganan darurat bencana di Bali dan NTT mulai terkendali dan kini memasuki masa transisi pemulihan, namun fenomena atmosfer yang membawa potensi cuaca ekstrem telah bergeser mendekati wilayah Jawa Timur hingga Jawa Barat.Tidak ingin kejadian serupa terjadi di wilayah lain, Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., memberikan arahan agar operasi modifikasi cuaca dilakukan sebagai langkah mitigasi dan antisipatif dalam menghadapi potensi risiko cuaca ekstrem tersebut. Hal ini disampaikan saat meninjau wilayah terdampak banjir di Kota Denpasar, Provinsi Bali pada Rabu (10/9)."Kami sudah berkoordinasi dengan BMKG, curah hujan tinggi akibat gelombang Rossby dan Kevin sudah tidak di area Bali, namun bergeser ke arah barat yaitu sekitar wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Saat ini sedang berkoordinasi dengan para kepala daerah di wilayah tersebut untuk langkah kesiapsiagaan dan antisipasi dengan operasi modifikasi cuaca", jelas Suharyanto.Operasi modifikasi cuaca dilakukan dengan menebarkan bahan semai berupa Natrium Klorida (NaCl) maupun Kalsium Oksida (CaO). Hal ini bertujuan untuk meredistribusi curah hujan agar hujan lebat tidak turun di wilayah padat penduduk, namun turun di wilayah perairan. Harapannya, banjir besar seperti yang terjadi di wilayah Provinsi Bali dan NTT akibat cuaca ekstrem pada dasarian pertama Bulan September lalu tidak terjadi di wilayah lainnya.

15 September 2025

Musim Kemarau Mundur, Cuaca Ekstrem Ancam Wilayah Padat

LensaDaily - Beberapa hari terakhir, langit mendung hingga hujan lebat mengguyur sejumlah kota besar di Indonesia. Hujan tak hanya turun di malam hari, tetapi juga siang hingga sore hari. Jakarta, Bogor, Bandung, hingga Mataram dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Tak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, kondisi ini juga memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang.Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa prediksi musim kemarau 2025 mengalami kemunduran. Dari pemantauan hingga akhir Juni, baru sekitar 30 persen wilayah Indonesia yang benar-benar memasuki kemarau. Padahal, secara normal, angka tersebut seharusnya mencapai 64 persen.Prediksi Cuaca Masih Mengarah ke Kemarau BasahFenomena ini bukan tanpa sebab. BMKG menyebut lemahnya monsun Australia, suhu muka laut yang hangat, dan dinamika atmosfer menjadi penyebab utama. Meskipun kondisi global seperti ENSO dan IOD berada dalam fase netral, pengaruh lokal seperti gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby serta pertemuan angin memicu pembentukan awan hujan di banyak wilayah.Pada 5 dan 6 Juli 2025, hujan dengan intensitas lebih dari 100 mm per hari tercatat di Bogor, Jakarta, Tangerang, Mataram, dan beberapa wilayah di Sulawesi Selatan. Hujan sangat lebat ini mengakibatkan genangan, kemacetan lalu lintas, hingga kerusakan infrastruktur. Bahkan, wilayah Puncak mencatat curah hujan lebih dari 150 mm per hari, yang tergolong ekstrem.BMKG telah mengeluarkan peringatan dini sejak 28 Juni dan 3 Juli lalu. Sistem peringatan ini dikirimkan melalui aplikasi Info BMKG, media sosial resmi, WhatsApp grup, serta jalur koordinasi dengan BPBD, BNPB, dan instansi lainnya.Waspada Potensi Bencana dan Modifikasi CuacaHujan diperkirakan masih akan mengguyur wilayah Jawa bagian barat dan tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, NTB, Maluku tengah, dan Papua bagian utara selama sepekan ke depan. Periode 10 hingga 12 Juli 2025 diperkirakan akan menjadi masa dengan intensitas hujan tinggi di Indonesia bagian tengah dan timur.BMKG juga mencatat bahwa suhu laut Indonesia yang masih hangat menyebabkan kelembapan udara tetap tinggi. Hal ini semakin memperbesar potensi terbentuknya awan hujan. Selain itu, pertemuan dan perlambatan angin di sekitar Jawa Barat turut memperkuat kondisi atmosfer yang labil.Langkah antisipasi pun dilakukan. Operasi modifikasi cuaca resmi dimulai hari ini, dengan posko utama di Halim Perdanakusuma, Jakarta. Harapannya, intervensi teknologi ini bisa mengurangi intensitas hujan dan meringankan beban warga terdampak banjir.BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan siaga. Potensi bencana seperti banjir, tanah longsor, dan gangguan transportasi masih tinggi. Terutama di wilayah padat penduduk dan area wisata yang ramai selama libur sekolah.Meskipun berada di musim kemarau, kondisi atmosfer saat ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang menghadapi kemarau basah—cuaca yang tak bisa ditebak dan membawa tantangan baru bagi masyarakat, khususnya dalam menjaga keselamatan dan kelancaran aktivitas harian.Reporter : Mulyadi Muis

07 Juli 2025