icon

LensaDaily.com

Kategori Berita

Cabang Berita

Pilih Tema:

Tag: siklontropis


Cuaca Ekstrem Diprediksi hingga Akhir Januari, Waspada Hujan dan Angin Kencang

LensaDaily - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan sepekan kedepan atau hingga akhir Januari sejumlah daerah di Indonesia diprediksi dilanda cuaca ekstrem kondisi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat yang disertai angin kencang. Cuaca ekstrem ini disebabkan beberapa dinamika atmosfer, terlebih munculnya Bibit Siklon Tropis 91S dan 92 P."Bibit Siklon Tropis 91S dan 92 P terpantau di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat dan Teluk Carpentaria yang membentuk serta memperkuat daerah konvergensi dalam skala luas di wilayah selatan Indonesia, meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku bagian Selatan hingga Papua Selatan bagian Selatan," mengutip keterangan BMKG melalui bmkg.go.id, Sabtu 24 Januari 2026.Selain itu aktifnya Monsun Asia yang membawa suplai massa udara lembap dari Laut China Selatan, bergerak ke wilayah Indonesia melalui Selat Karimata.Fenomena tersebut diperkuat dengan adanya seruakan dingin (cold surge) dari dataran tinggi Siberia hingga melewati ekuator mencapai Pulau Jawa yang diindikasikan dengan signifikannya indeks surge, dan indeks CENS (Cross-Equatorial Northerly Surge) beberapa hari belakangan ini."Aliran monsun Asia ini berkontribusi signifikan terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan terutama di wilayah Indonesia bagian selatan," ucap BMKG.Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Lampung, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.Awas (Hujan sangat lebat – hujan ekstrem): Banten, dan DK Jakarta.Angin Kencang: Kep. Riau, Kep. Bangka Belitung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.Periode 26 – 29 Januari 2026Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Aceh, Bengkulu, Lampung, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Tengah dan Papua.Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Papua Pegunungan.Angin Kencang: Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu serta potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem.Masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti ibadah, dan aktivitas wisata.

24 Januari 2026

Peringatan Dini BMKG: Siklon Tropis Bakung Picu Hujan Lebat, 15 Daerah Waspada - Termasuk Aceh dan Sumut

LensaDaily - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) keluarkan imbauan peringatan dini cuaca. Peringatan ini, dipicu pengaruh Siklon Tropis Bakung, Bibit Siklon Tropis, serta dinamika atmosfer, Minggu 14 Desember 2025. Kondisi ini meningkatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah Indonesia."Siklon Tropis Bakung berada di Samudera Hindia barat daya Lampung, siklon ini memiliki kecepatan angin maksimum 55 knot. Dengan tekanan udara minimum 988 hektopaskal, bergerak ke arah barat daya," ujar, Prakirawan Cuaca BMKG, Wahyu Anissa.Dalam kesempatannya, ia mengungkapkan bahwa, dalam 48 hingga 72 jam ke depan, siklon tersebut berpotensi meningkat menjadi siklon tropis kategori dua. Peningkatan intensitas tersebut, dapat memicu kecepatan angin lebih dari 25 knot."Pembentukan 'low' level jet. Serta daerah pelambatan kecepatan angin atau konvergensi di sekitar Samudera Hindia barat daya Lampung dan area sekitarnya,” jelasnya.BMKG juga memantau, Bibit Siklon Tropis 93S di Samudera Hindia selatan Jawa Timur. Bibit siklon ini, memiliki kecepatan angin maksimum 15 knot dan tekanan udara minimum 1006 hektopaskal."Siklon bergerak ke arah barat daya dengan peluang berkembang menjadi siklon tropis 48–72 jam ke depan masih tergolong rendah. Siklon ini berpotensi membentuk daerah konvergensi memanjang dari Jawa Tengah hingga Nusa Tenggara Barat,” ujarnya.Selain itu, BMKG mengamati potensi pembentukan low pressure area di perairan barat daya Papua Selatan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Maluku dan Papua Selatan.Sirkulasi siklonik diprakirakan terbentuk di Samudera Hindia barat Aceh, memicu konvergensi memanjang dari perairan utara hingga barat Aceh.Berikut daerah konvergensi dan pertemuan angin lainnya yang terpantau meluas:- Laut Cina Selatan hingga Kepulauan Riau- Selat Karimata hingga perairan selatan Kalimantan Tengah- Kalimantan Utara hingga Kalimantan Tengah- Nusa Tenggara Timur hingga Laut Banda- Maluku hingga perairan selatan Papua Barat Daya- Papua Barat hingga Papua- Bengkulu hingga Lampung- Selat Makassar hingga perairan selatan Sulawesi Selatan- Samudera Pasifik barat laut Papua hingga perairan timur Maluku Utara- Kondisi atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sekitar siklon tropis, bibit siklon, low pressure area, serta sepanjang daerah konvergensi dan konfluensi.BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai angin kencang dan petir.Berikut wilayah yang harus meningkatkan kewaaspadaan:- Aceh- Sumatra Utara- Riau- Kepulauan Bangka Belitung- Bengkulu- Sumatra Selatan- Lampung- Banten- Jawa Timur- Bali- Nusa Tenggara Barat- Nusa Tenggara Timur- Sulawesi Barat- Maluku- Papua SelatanMasyarakat di wilayah rawan bencana hidrometeorologi juga diminta waspada terhadap potensi banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. BMKG mengingatkan agar masyarakat terus memantau pembaruan informasi cuaca resmi.

15 Desember 2025

BMKG Ingatkan Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem Jelang Nataru, Belajar dari Bencana Sumatera

LensaDaily - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan kondisi cuaca terkini dan potensi risiko hidrometeorologi dalam Rapat Koordinasi Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 yang digelar untuk memperkuat kesiapsiagaan nasional menjelang puncak mobilitas masyarakat.Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menegaskan Jenis bencana yang mendominasi yaitu hujan ekstrem, angin kencang, serta fenomena lain seperti petir merusak, puting beliung, hujan es, dan jarak pandang terbatas yang kerap mengganggu penerbangan maupun pelayaran.“Trennya terus naik. Jawa Barat memimpin frekuensi kejadian hujan ekstrem dan angin kencang, disusul Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” ujar Faisal 1 Desember 2025.Untuk periode minggu ke-2 Desember hingga awal Januari, BMKG memperkirakan:- Monsoon Asia mulai aktif, meningkatkan curah hujan di Indonesia.- Munculnya anomali atmosfer Madden Julian Oscillation, gelombang Kelvin, dan Rossby Equator yang memicu hujan ekstrem.- Hadirnya seruak dingin Siberia yang turut memperkuat intensitas hujan.- Bibit siklon tropis berpotensi tumbuh di wilayah selatan Indonesia.Daerah yang perlu waspada pembentukan bibit siklon antara lain Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa – Bali, NTB, NTT, Maluku, Papua Selatan dan Tengah.BMKG mengingatkan bahwa meskipun Indonesia umumnya tidak berada pada jalur siklon, anomali cuaca dapat mengubah pola tersebut, seperti Siklon Senyar yang menyebabkan kerusakan luas dan hujan ekstrem lebih dari 380 mm/hari di Aceh beberapa waktu lalu.Pada 28 Desember – 10 Januari, hampir seluruh wilayah Pulau Jawa, Bali, NTT, NTB, hingga sebagian Sulawesi Selatan dan Papua Selatan berpotensi mengalami hujan tinggi hingga sangat tinggi (300-500 mm per bulan).Di sisi lain, potensi banjir rob juga perlu diwaspadai di pesisir Jakarta, Banten, dan Pantura Jawa Barat, terutama akibat fase perigee dan bulan purnama pada pertengahan Desember.Selain itu, untuk mendukung percepatan penanganan darurat dan distribusi logistik, BMKG bersama BNPB menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di tiga bandara, Sultan Iskandar Muda (Aceh), Kualanamu (Sumut), dan Bandara di Padang.Operasi dilakukan untuk menurunkan hujan di wilayah tidak terdampak, atau mencegah hujan di zona rawan bencana, menggunakan penyemaian NACL atau Calcium Oxide.“OMC hanya bisa dilakukan bila gubernur menetapkan status siaga darurat. Tanpa itu, operasi tidak bisa dijalankan karena biaya dan risikonya sangat besar,” jelasnya.Lebih lanjut BMKG menegaskan bahwa siklon tropis dapat diprediksi hingga 8 hari sebelumnya. Peringatan dini telah dikirimkan berulang saat adanya Siklon Senyar.Pemerintah daerah dapat secara aktif berkonsultasi dengan Balai Besar BMKG, segera menggelar rapat koordinasi bersama Forkopimda, serta memperkuat sistem respons dini menjelang libur Nataru.BMKG juga membuka posko nasional di berbagai pelabuhan dan bandara, serta menyiapkan aplikasi pendukung seperti radar cuaca, DWT untuk jalan raya, dan Inawis untuk pemantauan laut.Mendagri menyampaikan bahwa dua kejadian besar  banjir bandang dan longsor di Cilacap, Banjarnegara, Jawa Tengah, serta bencana luas di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi peringatan nyata bahwa ancaman dapat muncul setiap saat dan di lokasi mana pun.“Kita belum tahu apa yang menghadang ke depan. Sama seperti yang terjadi di Sumatera Utara, kejadiannya sangat cepat dan kita mungkin kurang siap,” ujarnya.Faisal menutup paparannya dengan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memaksimalkan peringatan dini menjadi tindakan dini.“Rapat ini penting agar kita memiliki kesiapsiagaan dengan awas, siaga menuju keselamatan. Early warning menimbulkan early action menuju zero victim,” tutupnya.

02 Desember 2025

Bibit Siklon 95B Berevolusi Siklon Tropis Senyar, Aceh dan Sumut Dilanda Cuaca Ekstrem

LensaDaily - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau Bibit Siklon 95B di kawasan Selat Malaka, bagian timur Aceh telah berevolusi menjadi Siklon Tropis Senyar per 26 November 2025 pukul 07.00 WIB. Berdasarkan pemantauan terakhir, siklon ini bergerak ke arah barat menuju wilayah daratan Aceh dengan kecepatan sekitar 10 km/jam dan dapat berdampak signifikan terhadap potensi terjadinya hujan sangat lebat hingga ekstrem yang dapat disertai angin kencang di wilayah sekitarnya.Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan kondisi ini meningkatkan suplai air di perairan hangat Selat Malaka yang memicu pertumbuhan awan konvektif di bagian utara Sumatra. Saat ini Siklon Tropis Senyar berpusat di sekitar 5.0° LU dan 98.0° BT dengan tekanan udara minimum di pusat mencapai sekitar 998 hPa dan kecepatan angin maksimum di sekitar sistem mencapai 43 knot (80 km/jam).“Dalam 24 jam ke depan, Siklon Tropis Senyar bergerak ke arah barat hingga barat daya dan masih di daratan Aceh dengan kecepatan pergerakan 4 knot (7 km/jam), sedangkan dalam 48 jam kedepan Siklon Tropis Senyar diperkirakan akan menurun intensitasnya menjadi Depresi Tropis,” kata Faisal dalam konferensi pers di Gedung Command Center MHEWS, BMKG, Jakarta 26 November 2025.Kendati demikian, cuaca ekstrem tetap berpotensi terjadi sebagai dampak lanjutan, sehingga potensi dampak bencana hidrometeorologi masih harus diwaspadai terjadi di wilayah Aceh, Sumatra Utara (Sumut), Kepulauan Riau, Riau, Sumatra Barat (Sumbar), dan sekitarnya pada 2-3 hari ke depan.Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menjelaskan, Siklon Tropis Senyar memberikan dampak berupa hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem di wilayah Aceh dan Sumut, hujan sedang-lebat di sebagian wilayah Sumbar dan Riau.Selain itu, angin kencang berpotensi terjadi di wilayah Aceh, Sumut, Sumbar, Kep. Riau, dan Riau; serta gelombang kategori sedang (1.25 – 2.5 m) di wilayah Selat Malaka bagian tengah, Perairan Sumatera Utara, dan Perairan Rokan Hilir. Gelombang kategori tinggi (2.5 – 4.0 m) di wilayah Selat Malaka bagian utara, Perairan Aceh, dan Samudra Hindia barat Aceh hingga Nias.BMKG terus memantau dinamika atmosfer imbas sistem siklon tropis melalui TCWC (Tropical Cyclone Warning Center) Jakarta. Sejak berupa Bibit Siklon Tropis 95B, Siklon Tropis Senyar telah menunjukkan dampak bagi kondisi cuaca di kawasan Selat Malaka dan sekitarnya.Sementara itu, Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani, menjelaskan, Indonesia memang berada dekat garis ekuator yang secara teori kurang mendukung terbentuknya atau dilintasi siklon tropis. Meski begitu, Andri menyampaikan bahwa dalam lima tahun terakhir cukup banyak siklon tropis yang bergerak mendekati wilayah Indonesia dan memberikan dampak yang signfikan.“Fenomena seperti Siklon Tropis Senyar tergolong tidak umum di wilayah perairan Selat Malaka, apalagi jika sampai melintasi daratan. BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi dampak cuaca yang dapat muncul selama sistem ini bergerak di sekitar wilayah tersebut.” kata Andri.Dengan adanya potensi cuaca ekstrem ini, BMKG mengimbau seluruh stakeholders, khususnya pemerintah daerah dan masyarakat wilayah terdampak untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi dampak lanjutan, seperti bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir pesisir, tanah longsor, hingga pohon tumbang akibat angin kencang. Termasuk bagi nelayan dan pelaku transportasi laut untuk memperhatikan kondisi gelombang tinggi yang berisiko mengganggu keselamatan pelayaran.Faisal berharap informasi ini tidak menimbulkan kepanikan, melainkan meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem. BMKG mengimbau agar masyarakat tenang dan terus mengikuti informasi resmi BMKG serta tidak mudah percaya pada informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.Peringatan dini ini sangat penting untuk diketahui agar aksi mitigasi dapat dilakukan sedini mungkin demi meminimalisir kerusakan dan jatuhnya korban.“Dengan prinsip awas, siaga, selamat, diharapkan peringatan dini BMKG dapat dimitigasi dengan baik demi meminimalisir kerusakan dan korban jiwa. Jadi, early warning menghadirkan early action, menuju zero victim,” pungkasnya.

27 November 2025