icon

LensaDaily.com

Kategori Berita

Cabang Berita

Pilih Tema:

Tag: jakarta


Belum Ada Keppres, Putusan MK Tetapkan Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta Dinilai Tepat

LensaDaily - Putusan Mahkamah Konstitusi yang menetapkan status ibu kota negara hingga saat ini masih berada di Jakarta dinilai tepat. Keputusan MK soal pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN) tersebut penting agar masyarakat tidak mengalami kebingungan mengenai status resmi ibu kota negara.Hal tersebut dikatakan Anggota Komisi II DPR RI Fauzan Khalid menanggapi putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 71/PUU-XXIV/2026 terkait pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN).Ia menambahkan bahwa dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara (UU IKN), di dalam pasal 39 ayat (1) menyebutkan bahwa perpindahan resmi ibu kota dari Jakarta ke Ibu Kota Nusantara memang mensyaratkan adanya Keputusan Presiden (Keppres).“Saya kira kalau keputusan MK itu menurut saya sudah tepat. Karena memang Undang-Undang IKN itu sendiri di dalam salah satu ayat dan pasalnya menyatakan ibu kota resmi berpindah setelah ada Keppres. Keppresnya kan belum, makanya keputusan MK itu ibu kota negara tetap Jakarta sampai dengan Presiden menerbitkan keputusan Presiden,” ujar Fauzan saat ditemui Parlementaria usai pertemuan.Pernyataan ini menjadi perhatian publik di tengah masih berlangsungnya pembangunan Ibu Kota Nusantara dan beragam spekulasi soal kapan perpindahan pusat pemerintahan dilakukan secara resmi.Fauzan juga menilai kelanjutan pembangunan IKN sangat dipengaruhi kondisi keuangan negara. Ia menyebut pemerintah saat ini harus berhitung cermat dalam menentukan prioritas anggaran.“Saya kira ini kan sangat tergantung kepada kemampuan fiskal negara. Kita tahu sekarang kondisinya pemerintah juga harus menyesuaikan dengan kemampuan negara termasuk lebih mengutamakan yang menjadi program prioritas Pak Presiden,” tutup Politisi Fraksi Partai NasDem.

24 Mei 2026

Pria Ngaku Aparat Polisi Pukul Petugas SPBU di Jakarta Ditangkap, Ternyata Wiraswasta

LensaDaily - Polisi menangkap pria yang mengaku aparat menganiaya petugas SPBU di kawasan Cipinang, Jakarta Timur. Terungkap identitas pelaku sebenarnya yang melakukan penganiayaan terhadap tiga orang petugas SPBU bukan aparat polisi.Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto menegaskan, pelaku berprofesi wiraswasta bukan anggota kepolisian.“Pelaku sudah diamankan dan dipastikan bukan anggota Polri. Saat ini yang bersangkutan sedang diproses oleh penyidik Polres Metro Jakarta Timur. Kami memastikan penanganan perkara dilakukan secara profesional dan transparan,” jelas Kombes Pol. Budi  dalam keterangannya, Selasa 24 Februari 2026.Ia juga mengimbau masyarakat untuk menyikapi informasi yang beredar di media sosial secara bijak dan menunggu klarifikasi resmi dari pihak berwenang agar tidak terjadi kesalahpahaman.“Kami mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Jika menemukan peristiwa serupa atau tindak kekerasan, segera laporkan melalui Call Center 110 atau kantor polisi terdekat. Setiap laporan akan ditindaklanjuti,” ujarnya.Sebelumnya Polda Metro Jaya mendalami kasus dugaan penganiayaan tiga pegawai SPBU di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur. Penyelidikan juga dilakukan bersama Polres Jakarta Timur. Penyelidikan kasus ini juga turut serta Propam Polda Metro Jaya karena pria tersebut mengaku aparat kepolisian. â€śPolres Jaktim dan Ditreskrimum PMJ sedang mendalami kejadian tersebut dan orang yang mengaku aparat,” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto dalam keterangannya.Di sisi lain, Kabid Propam Polda Metro Jaya Kombes Pol. Radjo Alriadi Harahap menyebut pihaknya juga ikut turun mendalami kasus tersebut. Sebab, dalam narasi video yang beredar bahwa sopir mobil tersebut membawa oknum anggota kepolisian.Kombes Pol. Radjo memastikan, informasi itu tengah ditelusuri untuk memastikan apakah benar ada oknum anggota yang terlibat.“Masih kami dalami dengan Reskrim Polrestro Jaktim terhadap pelaku pemukulan dimaksud,” ujarnya.

25 Februari 2026

Komplotan Pencuri Kain Batik Tulis Senilai Rp1,3 Miliar Dibekuk

LensaDaily - Komplotan pencurian batik tulis senilai Rp1,3 miliar yang tengah dipamerkan di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta Pusat, ditangkap. Terungkap, komplotan berjumlah 3 orang ini sebelumnya juga beraksi di tempat yang sama dengan menggasak kain bahan senilai Rp100 juta. Ketiga pelaku yakni, seorang perempuan, Ledy Dwanty Naema Koen, bersama dua laki-laki, Krisantus Nomleni dan Gelbeth Juliana Yunus. Mereka diduga mencuri kain dan batik tulis dengan nilai kerugian mencapai Rp1,3 miliar di JCC Senayan. Saat ini, ketiganya telah ditetapkan sebagai tersangka dan disangkakan melanggar Pasal 477 KUHP."Perkara pencurian dengan pemberatan," kata Kanit Reskrim Polsek Tanah Abang AKP Ikhsan Rangga dalam keterangannya, Senin 16 Februari 2026.Peristiwa itu terjadi pada Rabu, (4/2/2026) sekitar pukul 08.00 WIB. Selang beberapa jam kemudian, tepatnya sekitar pukul 13.00 WIB di hari yang sama, saksi korban mendatangi Polsek Tanah Abang untuk membuat laporan resmi."Berawal pada hari Rabu, tanggal 4 Februari 2026, sekitar jam 13.00 WIB, saksi korban datang ke Polsek Tanah Abang melaporkan adanya tindak pidana pencurian yang diketahui terjadi pada hari Rabu, tanggal 4 Februari 2026, sekitar jam 08.00 WIB, atas kejadian tersebut korban mengalami kerugian sebesar Rp1.376.000.000," ujar Ikhsan.Usai menerima laporan, polisi langsung menuju lokasi dan mengecek rekaman CCTV, kemudian pelaku berhasil diidentifikasi dan ditangkap pada Kamis (12/2) di lokasi yang berbeda."Dengan adanya petunjuk rekaman CCTV anggota Reskrim melakukan penyelidikan terhadap kendaraan maupun pelaku, selanjutnya pada hari Kamis, tanggal 12 Februari 2026, sekitar jam 02.00 WIB, anggota Reskrim yang dipimpin Kanit Reskrim melakukan penangkapan terhadap 3 orang pelaku di tempat berbeda," ucapnya.Ia menjelaskan, timnya mendatangi kediaman Ledy di Kota Bekasi dan berhasil menemukan barang bukti hasil pencurian. Menurutnya, penangkapan terhadap Ledy dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan oleh suaminya."Namun pelaku saudari Ledy Dwanty Naema Koen tidak ada di tempat, selanjutnya suami pelaku memberitahukan kediaman saudari Ledy Dwanty Naema Koen, dan atas petunjuk suaminya sehingga pelaku saudari Ledy Dwanty Naema Koen dapat diamankan," katanya.Lalu, dua pelaku lainnya, yaitu Krisantus dan Gelbeth, ditangkap tak jauh dari rumah Ledy. Ketiga pelaku kemudian dibawa ke Polsek Tanah Abang."Selanjutnya, pelaku saudari Ledy Dwanty Naema Koen memberitahukan 2 orang pelaku lainnya yang berada di Yayasan Embun Kasih Bekasi yang letaknya tidak jauh dari rumah pelaku, dan tidak lama kemudian 2 orang pelaku bernama Krisantus Nomleni dan Gelbeth Juliana Yunus dapat diamankan berikut barang bukti baju batik dan bahan batik hasil curian, selanjutnya 3 orang pelaku dan barang bukti dibawa ke Polsek Tanah Abang," tuturnya.Penyelidikan lebih lanjut terhadap kasus ini masih terus dilakukan oleh pihak kepolisian untuk mengungkap kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat dalam aksi pencurian tersebut. Selain itu, pihak kepolisian juga akan melakukan pendalaman terhadap jaringan pelaku untuk mengungkap kemungkinan adanya kasus pencurian lain yang dilakukan oleh mereka di tempat lain.

17 Februari 2026

Bahan Peledak Ledakan di SMAN 72 Jakarta Dibeli Online, Pelaku Belum Diperiksa

LensaDaily - Anak berkonflik hukum (ABH)-pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta ternyata membeli bahan peledak secara online. Sedangkan pemeriksaan terhadap ABH belum dilakukan penyidik karena kondisi ABH dinilai belum layak diperiksa. Polisi mengungkap awal mula anak berkonflik hukum (ABH) mendapatkan bahan peledak untuk beraksi di SMAN 72 Jakarta. Bahan peledak itu diduga dibeli ABH secara online."Iya seperti itu (dibeli online). Karena kan orang tuanya yang menerima (paket)," jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto kepada wartawan, Jumat 21 November 2025.Kombes Pol. Budi menyebut, ABH mengaku kepada keluarganya paket itu berisikan barang untuk keperluan ekstrakurikuler di sekolahnya. Sehingga, pihak keluarga tidak menaruh curiga."Terus kalau barang-barang paket yang diterima itu, itu kan untuk ekstra kurikuler sekolah. Jadi tidak ada kecurigaan dari keluarga juga," ujarnya.Sedangkan kondisi ABH belum layak untuk dimintai keterangan terkait ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta beberapa waktu lalu."Dari dokter menyatakan itu belum (layak), karena dia (ABH) masih bengong, terus ngomong sebentar kadang masih kayak masih belum pulih sepenuhnya," ujar Kombes. Pol. Budi Hermanto.Meski demikian, dia memastikan pihaknya tetap melakukan pemeriksaan dan mengambil keterangan dari saksi, keluarga, laboratorium forensik, serta dokter. Setelah dokter memutuskan kondisi ABH sudah layak untuk dimintai keterangan, sambung dia, penyidik akan langsung melakukan pemeriksaan."Setelah dokter mengatakan bahwa kondisinya sudah bisa untuk dimintai keterangan, penyidik pasti akan melakukan komunikasi dengan Bapas (balai pemasyarakatan), Dinsos (Dinas Sosial DKI Jakarta), terus KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)," jelas Budi.Sementara itu, Polda Metro Jaya menyebutkan masih ada tiga orang yang dirawat di sejumlah rumah sakit terkait ledakan SMAN 72 Jakarta. Pasien tinggal tiga orang, masing-masing di RS Yarsi, RSCM (RS Cipto Mangunkusumo), dan RS Polri.“Pihaknya juga masih berupaya meminta keterangan dari ABH, yang merupakan terduga pelaku ledakan di SMAN 72. Kemarin masih dalam proses meminta keterangan saksi, keluarga ABH, puslabfor dan dokter psikologis," ungkapnya.

21 November 2025

Pelaku Ledakan SMAN 72 Terinspirasi dari Pelaku Kekerasan Ekstrem, Ini Nama-namanya

LensaDaily - Anak berkonflik dengan hukum terkait ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara diyakini terinspirasi dari sejumlah pelaku teror global. Densus 88 Anti Teror mengungkap total ada enam tokoh yang diyakini menjadi inspirasi yang ditulis pada senjata mainan yang ditemukan di lokasi kejadian. Juru Bicara Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa enam sosok tersebut dikenal dari aksi kekerasan ekstrem di berbagai belahan dunia. Meski terinspirasi oleh tokoh-tokoh tersebut, ledakan SMAN 72 dipastikan bukan termasuk aksi terorisme.“Nah di sini ada suatu hal yang memprihatinkan, ada beberapa yang menjadi inspirasi terkait figur kita sebutkan ada kurang lebih 6 yang tercatat," ujar AKBP Mayndra, Selasa 11 November 2025.Berikut ini adalah beberapa nama tersebut:1. Eric Harris dan Dylan Klebold, pelaku penembakan massal di Columbine High School, AS, 1999, penganut neo-Nazi;2. Dylann Storm Roof, pelaku penyerangan gereja di Charleston, AS, 2015, penganut supremasi kulit putih;3. Alexandre Bissonnette, pelaku penembakan masjid di Quebec, Kanada, 2017, dikenal karena Islamofobia ekstrem;4. Vladislav Roslyakov, pelaku penembakan massal Politeknik Kerch, Crimea, 2018;5. Brenton Tarrant, pelaku serangan masjid Christchurch, Selandia Baru, 2019;6. Natalie Lynn 'Samantha' Rupnow, pelaku penembakan sekolah di Madison, AS, 2024.

12 November 2025