LensaDaily - Kasus pembalakan liar di Aceh yang menjadi penyebab dominan bencana Sumatera pada November 2025 lalu masuk tahap penyidikan. Penanganan kasus oleh Bareskrim Polri ini tindak lanjut dari bencana alam longsor dan banjir beberapa waktu lalu.Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigjen Pol. Moh. Irhamni, mengatakan tim penyidik Bareskrim Polri mulai melakukan penyidikan atas dugaan pembalakan liar yang terjadi di Aceh. “Sudah naik sidik 7 LP,” ungkap Brigjen Pol. Moh. Irhamni, Selasa 3 Februari 2026.Ia menerangkan, dari tujuh laporan polisi tersebut, tiga merupakan tindak pidana lingkungan hidup. Sedangkan empat lainnya adalah dugaan tindak pidana pembalakan liar.Sebelumnya penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri melakukan pencocokan kayu-kayu yang ada di Darul Mukhlisin, Aceh Tamiang. Kayu-kayu tersebut sebelumnya terbawa aliran air banjir bandang.Tim penyelidik melakukan penelusuran area aliran air yang membawa kayu gelondongan tersebut. Kemudian, kayu gelondongan itu diduga hasil dari Ilegal logging.“Kemungkinan identifikasi kami adalah kegiatan-kegiatan pembukaan lahan di hutan lindung, Hutan Lindung Serba Jadi ataupun Hutan Lindung Simpang Jernih,” ungkap Brigjen Pol. Irhamni kepada wartawan, dikutip Selasa 6 Januari 2026.Brigjen Pol. Irhamni memastikan, penyelidik berusaha keras untuk mendapatkan informasi itu untuk meningkatkan status hukum ke proses penyidikan. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada tokoh masyarakat dan aparat setempat atas informasi yang diberikan.“Tentunya legal tidak menurut kemungkinan juga adanya gampang lingkungan yang rusak ataupun apalagi kalau itu ilegal,” ujar Brigjen Pol. Irhamni.
04 Februari 2026Tag: pembalakanliar
LensaDaily - Sebanyak 1.250 keping kayu balok tanpa dokumen resmi diamankan Bea Cukai Batam di Pulau Hangop Perairan Batam, Kepulauan Riau, yang diangkut sebuah kapal. Diduga kayu-kayu tersebut hasil pembalakan liar (illegal logging).Kepala Kantor Bea Cukai Batam, Zaky Firmansyah mengatakan, kayu tersebut diamankan Tim Patroli Laut KPU Bea Cukai Batam, pada 3 Desember 2025. Kapal dengan nama KM Rasidin tersebut, membawa empat orang awak kapal dan melaju dari Tanjung Samak menuju Batam."Penindakan ini menegaskan peran pengawasan Bea Cukai yang berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan," ujar Kepala Kantor Bea Cukai Batam, Zaky Firmansyah dalam keterangannya Kamis 24 Desember 2025.Zaky menjelaskan dari pemeriksaan awal, muatan kapal KM Rasidin tersebut tidak disertai dokumen resmi, barang bukti berupa balok kayu dan sarana pengangkut langsung diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.Seluruh barang bukti dan kapal kemudian diserahkan kepada Lajahidi selaku Koordinator Polisi Hutan KPHL Unit II Batam, sebagai bentuk pelimpahan perkara untuk proses hukum lebih lanjut oleh otoritas yang berwenang di bidang kehutanan.“Perdagangan kayu ilegal ini tidak hanya merugikan negara dari sisi penerimaan dan tata niaga hasil hutan, tetapi juga berdampak terhadap kelestarian lingkungan. Apalagi jika berasal dari penebangan pohon tanpa izin. Kegiatan ini bisa memicu bencana alam seperti banjir dan tanah longsor,” sebut Zaky. Ia menegaskan bahwa di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu lingkungan di berbagai wilayah Indonesia, pengawasan Bea Cukai Batam tidak hanya bertujuan menegakkan hukum, tetapi juga memastikan aktivitas perdagangan tidak merusak ekosistem.Bea Cukai Batam berkomitmen untuk terus memperkuat pengawasan di wilayah perairan guna mencegah peredaran barang ilegal, termasuk hasil hutan yang berpotensi merusak lingkungan.Melalui sinergi dengan aparat penegak hukum dan instansi terkait, Bea Cukai Batam berharap upaya penindakan ini dapat memberikan efek jera sekaligus mendukung perlindungan sumber daya alam serta keberlanjutan lingkungan di wilayah Batam dan Kepulauan Riau.
24 Desember 2025LensaDaily - Tersangka kasus dugaan pembalakan liar (ilegal logging) di wilayah terdampak bencana banjir, banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang sebabkan korban jiwa seribu lebih diyakini akan bertambah.Hal ini dikatakan Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo yang menyebutkan membuka peluang adanya tambahan tersangka dari hasil penyidikan kasus ini.“Kemungkinan akan bertambah,” jelas Jenderal Sigit, Jumat 19 Desember 2025.Menurut Jenderal Sigit, proses penyidikan masih terus berlanjut tidak hanya di wilayah Sumatera Utara (Sumut). Namun, yang telah naik penyidikan baru terkait dengan PT TBS di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga dan Anggoli. Dijelaskan Kapolri, dari bukti dan hasil kerjasama Polri dengan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan Kementerian Lingkungan Hidup, tengah mengarah ke wilayah Aceh dan Sumatera Barat (Sumbar) yang juga terdampak bencana.“Tadi kami mendapatkan laporan, anggota terus melakukan pendalaman, dan sekarang juga turun lagi ke beberapa wilayah, jadi kemungkinan akan bisa bertambah,” jelasnya.Ditambahkan Jendefal Sigit, hingga kini belum bisa menjabarkan lebih lanjut terkait temuan penyidikan di wilayah lain. Sebab, semua keterangan maupun alat bukti masih dilakukan analisa agar hasilnya akurat.“Tapi karena tentunya untuk melaksanakan naik penyidikan kan, kita juga harus hati-hati, jangan sampai keliru, sehingga kemudian pada saat nanti sudah kita naikkan proses, semuanya bisa kita tuntaskan gitu,” ungkap Kapolri.
19 Desember 2025LensaDaily - Tumpukan gelondongan kayu yang terbawa saat longsor dan banjir bandang melanda Sumatera kini diselidiki Bareskrim Polri, yang menjadi salah satu penyebab bencana. Penyelidikan dilakukan investigasi tumpukan kayu di wilayah aliran Sungai Anggoli dan Sungai Garuga, Tapanuli Tengah.Penyelidikan mengumpulkan barang bukti ini dipimpin Dirtipiter Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Moh. Irhamni, menjelaskan bahwa kayu-kayu yang tersangkut di dua jembatan utama telah menutup aliran sungai sehingga menimbulkan luapan air besar yang menghantam pemukiman warga.“Kami berdiri di daerah DAS Anggoli, tepatnya di Desa Anggoli. Di dua jembatan ini, aliran air tertutup oleh kayu-kayu besar sehingga arus melimpah ke pemukiman warga,” ujar Brigjen Irhamni, Rabu 10 Desember 2025.Dari hasil olah TKP di dua lokasi jembatan, tim Bareskrim menemukan 10 jenis kayu berbeda yang teridentifikasi hanyut dan tersangkut. Seluruh sampel tersebut akan diuji di laboratorium untuk mengetahui spesifikasi dan kesamaan dengan jenis pohon yang berada di wilayah hulu.“Kami membawa kayu-kayu yang ditemukan ke laboratorium. Nantinya akan dicocokkan dengan pohon yang berada di wilayah hulu agar diketahui asal tumbuhannya,” jelas Brigjen Irhamni.Investigator kemudian melakukan penelusuran udara dan analisis citra satelit bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dari data citra satelit, ditemukan sedikitnya 110 bukaan lahan di area hulu DAS Anggoli dan DAS Garuga.“Hingga saat ini kami baru memeriksa sekitar 6–8 kilometer ke arah hulu dan menemukan empat bukaan. Masih ada sekitar banyak bukaan lagi yang harus kami pastikan,” tegasnya.Saat ditanya mengenai dugaan keterlibatan pembalakan liar, Brigjen Irhamni menyatakan bahwa hal tersebut masih dalam tahap pendalaman.“Kami sedang memastikan apakah bukaan-bukaan tersebut berizin atau tidak. Kami mohon waktu untuk membuktikan itu,” ujarnya.Menurutnya, proses pembuktian tanggung jawab pidana tidak sederhana karena harus mengaitkan kayu yang ditemukan di lokasi dengan aktivitas pembukaan hutan yang berlangsung di hulu.Dalam investigasi ini, Bareskrim menggandeng unsur lintas lembaga, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Polda Sumut, Masyarakat setempat, dan sejumlah NGO yang telah memberikan informasi historis aktivitas pemanfaatan hutan di kawasan tersebut.“Rekan-rekan NGO dan masyarakat memberikan informasi mengenai aktivitas di masa lalu di daerah ini. Itu sangat membantu,” kata Brigjen Irhamni.Bareskrim menegaskan bahwa jika nantinya terbukti terdapat pelanggaran dalam aktivitas pembukaan lahan, maka proses penyidikan akan diarahkan pada penegakan hukum pidana.“Tentunya apabila berbicara proses penyidikan, sanksi pidana yang akan diterapkan. Namun kami harus membuktikan pertanggungjawaban pihak yang terlibat,” kata Brigjen Irhamni.Ia juga sekaligus mengajak seluruh pihak, termasuk media nasional dan lokal, untuk mengawal proses penegakan hukum yang sedang berjalan.“Kami mohon dukungan dari rekan-rekan media sebagai kontrol sosial,” pungkasnya.
11 Desember 2025LensaDaily - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni diketahui bertemu dan bermain domino dengan tersangka kasus pembalakan liar, Azis Wellang bersama Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding. Raja Juli Antoni yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu pun membenarkan dokumentasi yang pertama kali dipublikasikan oleh Tempo.Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menanggapi terkait foto dirinya bersama Azis Wellang yang merupakan tersangka kasus pembalakan liar. Raja Antoni menjelaskan awal mula dirinya berada di lokasi tersebut.Hal ini disampaikan Raja Antoni Sabtu 6 September 2025 menanggapi pemberitaan yang dimuat oleh Tempo dengan judul ‘Menteri Kehutanan Main Domino dengan Tersangka Pembalak Liar’. Berita tersebut memuat foto yang menampilkan Raja Antoni bersama Menteri Pelindungan Pekerja Migran Abdul Kadir Karding dan dua orang lainnya yang tengah bermain domino.Raja Antoni menjelaskan, dirinya bertemu dengan Karding di posko Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) atas permintaan Karding. Dalam pertemuan di luar jam kerja itu, Raja Antoni dan Karding melakukan diskusi yang tidak berkaitan dengan kasus pembalakan liar.“Saya janjian bertemu Mas Menteri Karding. Mas Menteri Karding meminta saya “nyamperin” beliau di posko Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) dimana beliau pada saat ini menjadi Sekjennya,” ujar Raja Antoni, mengutip jpnn.com, Minggu 7 September 2025.“Saya berdiskusi dengan Mas Menteri Karding berdua saja di ruang bagian belakang selama 2 jam-an lebih. Tidak ada tema diskusi kami menyangkut kasus pembalakan liar sama sekali. Mendekati jam 24.00 saya pamit pulang kepada beliau,” sambungnya.Raja Antoni menyebut dirinya dan Karding diminta untuk bermain domino saat hendak pulang. Ia menyebut banyak orang yang berada diruangan tersebut, selain itu Raja Antoni mengaku dirinya tidak mengenal dua orang lain yang ikut bermain, di mana saat ini baru diketahui merupakan Azis Wellang.“Di ruang tamu ramai sekali orang. Beberapa orang lainnya sedang beramain domino. Mas Menteri Karding dan saya diajak ikut main. Setelah 2 kali ‘putaran’. saya pamit pulang kepada Mas Menteri Karding dan banyak orang yang ada di ruang tamu tersebut,” tuturnya.“Saya tidak kenal dengan 2 pemain lainnya. Tidak ada juga pembicaraan soal kasus apapun pada saat itu. Setelah berita ini beredar, saya baru tahu bahwa salah seorang yang ikut main tersebut adalah Azis Wellang yang diberitakan sebagai pembalak liar,” ungkapnya.Menhut Raja Antoni memastikan dirinya tidak berkompromi dengan siapapun yang melakukan pelanggaran hukum di kawasan hutan. Ia menegaskan akan menegakkan hukum kepada pembalak liar tanpa pandang bulu.“Bagi saya tidak ada sedikitpun ruang bagi siapapun yang melakukan pelanggaran hukum di kawasan hutan. Saya akan tegakkan hukum setegas-tegasnya kepada pembalak liar tanpa pandang bulu. Demikian yang dapat saya sampaikan dengan sebenar-benarnya, secara faktual menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi pada tengah malam beberapa hari yang lalu,” pungkasnya.
07 September 2025


